Sebagian reviewer mengatakan ini “handheld PC terbaik”. Namun setelah dibandingkan dengan MSI Claw A8 dan Lenovo Legion Go 2, ternyata gelarnya tidak mutlak.
Apakah ROG Xbox Ally X Handheld Terbaik?
ROG Xbox Ally X punya fitur yang kuat, performa tinggi, dan kolaborasi resmi dengan Microsoft melalui Xbox Full Screen Experience, tetapi masih ada kekurangan seperti bobot berat, analog tanpa Hall Effect, dan UI yang belum benar-benar menyerupai konsol. Jadi terbaik atau tidak? Tergantung kebutuhan pengguna.
Harga ROG Xbox Ally X di Indonesia
Unit hitam ROG Xbox Ally X dibanderol sekitar Rp 15 juta, sementara versi putih sekitar Rp 10 juta.
Selisihnya Rp 5 juta terasa signifikan karena versi hitam membawa Ryzen Z2 Extreme, RAM 24 GB LPDDR5X, penyimpanan 1 TB PCIe Gen 4, dan iGPU RDNA 3.5. Sementara versi putih hanya Ryzen Z2A, 16 GB RAM, dan layar 720p.
Tidak seramai Legend Go 2 yang dikasih tas dan berbagai aksesori, unboxing ROG Xbox Ally X terasa simple:
- Charger 65W
- Manual & kartu garansi
- Docking bahan mirip kontainer telur
Tidak ada sleeve, tas, atau aksesori premium lain.
Ergonomi dan Desain: Prioritas Kenyamanan Bukan Estetika
Walau bentuknya dinilai “kurang cantik”, grip kiri-kanan menyerupai kontroler Xbox yang nyaman digenggam. Tulisan kecil “ROG Xbox” di bagian depan memberi kesan premium. Namun:
- bertambah 37 gram lebih berat dari generasi sebelumnya
- bodinya lebih tebal
- kalau dibawa di tas, memakan ruang
- bermain sambil tiduran atau tangan diangkat lama-lama terasa pegal
Itulah mengapa sebagian pengguna tetap setia dengan Nintendo Switch untuk mobilitas.
Port dan Konektor
Bagian atas memiliki:
- USB-C 3.2 Gen2
- USB-C USB4 (bisa eGPU & docking)
- MicroSD
- Audio combo jack
- Power button + fingerprint
- Ventilasi exhaust
Versi putih tidak memiliki USB4, hanya dua USB-C Gen2 biasa.
Layar & Speaker: Full HD 120Hz dan Audio Depan
Walaupun sering membuat perangkat “lebih besar dari kompetitor”, kali ini ROG tetap di layar 7 inci Full HD 120Hz (tanpa HDR). Bezel tebal tapi warna akurat. Speaker depan dua unit, volume kencang, clarity bagus, dan bass terasa. Untuk ukuran handheld, kualitas audionya mengejutkan.
Versi putih hanya layar 720p.
Xbox Full Screen Experience: UI Masih Windows, Tapi Praktis
Salah satu fitur andalan adalah Xbox Full Screen Experience—mode boot langsung ke aplikasi Xbox. Namun UI-nya belum terasa seperti dashboard Xbox, masih sangat Windows:
- Banyak aplikasi bawaan tidak penting (OneDrive, Teams, CoPilot)
- Wake from sleep cepat
- Game pihak ketiga (Steam, Epic, GOG) bisa terdeteksi otomatis
- Close game sangat mudah, tinggal swipe + tekan X
Mode sleep 9 jam hanya menghabiskan 3% baterai saat game pause. Mirip pengalaman Switch.
Performa Ryzen Z2 Extreme & Game AAA di Handheld
Profil daya:
- Silent: 13W
- Performance: 17W
- Turbo: 25W
- Saat dicolok charger bisa unlock 35W
Hasil gaming (Full HD, variasi setting):
Game Turbo FPS Performance FPS Doom 57 53 Spider-Man 2 65 55 Cyberpunk (preset Steam Deck) 87 63 Forza Horizon 5 60 60 EA FC 60 30-40 (replay) Wuthering Waves 46 (bahkan di 35W)
Saran game untuk silent mode:
- Hollow Knight Silk Song (120 FPS)
- Hades (230 FPS)
SteamOS Eksperimen
Saat dipaksa boot SteamOS:
- sedikit peningkatan FPS
- UI lebih konsol-like
- beberapa fungsi hilang (Armory Crate & fitur lain)
Meskipun tidak sempurna, ini bukti bahwa UI bawaan Windows sebenarnya masih bisa berkembang.
Baterai & Charger
- Kapasitas besar 80Wh
- Game 13W bisa tembus 8 jam
- Turbo hancur dalam 2 jam
- Charging 5%–100% sekitar 2,5 jam
Fitur Keren Lain
- Bisa masuk BIOS hanya tekan volume-down
- Dual fan, heatpipe, temperatur saat gaming 70–72°C
- Command Center overlay praktis: ubah TDP, resolusi, FPS limit, hingga volume aplikasi berbeda
Kekurangan kecil tapi mengganggu
- GameSir & banyak controller Bluetooth tidak terdeteksi
- Navigasi tetap banyak mengandalkan touchscreen
- Analog belum Hall Effect, masih punya circularity error 5,4%
Perbandingan: ROG Xbox Ally X vs MSI Claw A8 vs Lenovo Legion Go 2
| Fitur | ROG Xbox Ally X | MSI Claw A8 | Legion Go 2 |
|---|---|---|---|
| Harga | 15 juta | 14,6 juta | 18–20 juta |
| Layar | 7″ FHD 120Hz | 7″ 120Hz | 8,8″ OLED VRR |
| Analog | Bukan Hall Effect | Hall Effect | Hall Effect, detachable |
| RAM | 24GB | 16GB | 32GB |
| Kelebihan | Xbox Full Screen Experience, performa kencang | Analog Hall Effect | Layar besar, detachable stick |
| Kekurangan | Berat & UI belum konsol murni | Build kurang premium | Paling tidak portable |
Jika mencari handheld PC rasa Xbox, maka ini kandidat paling dekat, terutama karena Microsoft ikut terlibat langsung. Namun jika ingin layar besar, RAM besar, dan fitur paling fleksibel, Legion Go 2 masih lebih menarik. Untuk budget tipis tetapi ingin “nuansa Xbox handheld”, versi putih bisa menjadi pilihan, walaupun speknya lebih rendah.
Pada akhirnya, ROG Xbox Ally X adalah kombinasi aneh yang justru menarik: UI Windows, performa PC, tombol ala konsol, dan pengalaman gaming yang semakin rapih dibanding handheld PC Windows lain. Jadi pertanyaannya tinggal satu:
lebih tertarik versi hitam ROG Xbox Ally X atau versi putihnya?



