Pasar sepeda motor kelas menengah kembali kedatangan dua model yang cukup menarik perhatian. Kali ini, Triumph memperluas keluarga 400 Series melalui Thruxton 400 dan Tracker 400, dua motor yang sama-sama membawa mesin 400 cc tetapi memiliki karakter desain dan posisi berkendara berbeda. Keduanya diperkenalkan untuk melengkapi pilihan bagi penggemar motor bergaya klasik modern, sekaligus menawarkan pendekatan yang lebih spesifik untuk kebutuhan berkendara harian.
Dari sisi harga, kedua model tersebut cukup menarik untuk diperhatikan. Thruxton 400 dibanderol sekitar Rp188 juta on the road Jakarta, sedangkan Tracker 400 berada di kisaran Rp212 juta on the road Jakarta. Keduanya dijadwalkan meluncur secara resmi pada gelaran GIAs 2026. Dengan tampilan yang berbeda dari motor 400 cc kebanyakan, kehadiran dua model ini berpotensi menjadi pilihan bagi konsumen yang menginginkan motor berkapasitas besar dengan karakter visual kuat.
Harga Triumph Thruxton 400 dan Tracker 400 di Indonesia
Thruxton 400 menjadi model yang lebih dahulu menarik perhatian berkat desainnya yang memadukan nuansa cafe racer modern dengan bahasa desain klasik Triumph. Siluet bagian depan tampak sporty, tetapi penggunaan lampu utama berbentuk bulat membuat identitas retro tetap terasa. desain tersebut tidak dibuat terlalu kuno karena bentuk rumah lampu, fairing, tangki, hingga detail bodinya memiliki garis yang lebih agresif.
Sementara itu, Tracker 400 menawarkan karakter yang lebih gagah. Model ini mengambil inspirasi dari flat track racing Amerika, sehingga sejumlah elemen bodinya dibuat menyerupai motor yang biasa digunakan untuk balap lintasan tanah. Perbedaan tersebut terlihat pada bentuk tangki yang lebih datar, pelat nomor bergaya balap di sisi bodi, visor mungil, serta jok belakang dengan penutup bergaya single seat.
Keduanya tetap berada dalam keluarga 400 Series sehingga terdapat sejumlah komponen yang memiliki kemiripan. Namun, Triumph tidak sekadar mengganti warna atau aksesori. Karakter masing-masing motor benar-benar dibedakan melalui posisi berkendara, desain tangki, pola ban, detail jok, dan beberapa bagian eksterior lainnya.
Desain Thruxton 400, Motor Cafe Racer Modern dengan Lampu Bulat
Jika berbicara mengenai motor cafe racer 400 cc untuk penggunaan harian, Thruxton 400 memiliki daya tarik tersendiri. Tampilan depannya langsung memperlihatkan perpaduan antara unsur retro dan modern. Lampu utama berbentuk bulat menjadi elemen klasik yang sangat mudah dikenali, tetapi bentuk keseluruhan fairing dibuat lebih tajam sehingga tidak terlihat seperti motor lawas yang hanya mendapatkan teknologi baru.
Lampu depan sudah menggunakan LED. Pada bagian sampingnya terdapat DRL dengan pola yang cukup khas, sedangkan bagian tengah membawa identitas Triumph. Susunan lampu jauh dan dekat ditempatkan dalam dua kluster sehingga tampilan depannya terlihat padat. Lampu sein juga ditempatkan di area sekitar fairing, sementara kaca pelindung angin dibuat cukup tinggi untuk ukuran motor dengan konsep cafe racer.
Salah satu detail yang cukup menarik justru berada pada bagian fairing. Area tertentu mendapatkan lapisan warna yang berbeda, sedangkan bagian bawah dibiarkan berwarna hitam. Perbedaan tersebut menciptakan kesan seolah-olah komponen fairing tidak sepenuhnya menyatu, tetapi justru menjadi ciri khas visual tersendiri.
Beralih ke kaki-kaki, Thruxton 400 menggunakan suspensi depan model upside down berdiameter 43 mm. Ukurannya tergolong besar dan memberikan kesan kokoh. Suspensi tersebut dipadukan dengan pelek 17 inci serta ban Pirelli Diablo Rosso 4 berukuran 110/70 di depan dan 150/60 di belakang.
Rem Depan Enam Piston Menjadi Salah Satu Daya Tarik Thruxton 400
Bagian pengereman menjadi salah satu detail yang cukup mencolok. Thruxton 400 menggunakan kaliper Brembo dengan konfigurasi enam piston pada roda depan. Sistem tersebut terdiri dari beberapa piston yang bekerja pada cakram depan, sehingga tampilan perangkat pengeremannya terlihat sangat serius untuk motor di kelas 400 cc.
Sistem pengereman juga sudah dilengkapi ABS. Di roda belakang terdapat cakram dengan kaliper satu piston yang turut mendapatkan dukungan ABS. Kombinasi tersebut membuat perlengkapan pengereman tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga menunjukkan bahwa Triumph memberikan perhatian cukup besar terhadap aspek pengendalian.
Keunikan lain terdapat pada posisi rantai. Berbeda dari mayoritas sepeda motor Jepang yang umumnya menempatkan rantai di sisi kiri, Triumph mempertahankan karakter tradisionalnya dengan menempatkan rantai di sebelah kanan. Detail kecil seperti ini justru menjadi bagian dari identitas yang membedakan motor Triumph dari produk lain.
Mesin Triumph Thruxton 400 398 cc dengan Tenaga Hampir 40 PS
Di balik tampilan klasiknya, Thruxton 400 menyimpan mesin yang jauh lebih modern. Jantung mekanisnya menggunakan mesin satu silinder DOHC empat katup dengan sistem injeksi bahan bakar. Kapasitas bersihnya mencapai sekitar 398 cc dengan karakter bore yang tergolong besar.
Tenaga maksimum yang disebutkan berada di kisaran 40 PS, sedangkan torsinya sekitar 37,5 Nm. Konfigurasi tersebut memberikan gambaran bahwa motor ini tidak hanya mengejar tampilan. Performanya juga dipersiapkan untuk memberikan akselerasi yang cukup agresif, terutama ketika putaran mesin mulai meningkat.
Karakter mesin dengan bore besar juga berpotensi memberikan respons yang menyenangkan ketika pengendara membuka gas lebih dalam. Untuk kebutuhan perkotaan, tenaga tersebut sebenarnya sudah cukup berlimpah. Bahkan ketika digunakan di luar kota, spesifikasi seperti ini memberikan ruang performa yang lebih luas dibandingkan motor berkapasitas kecil.
Sistem pendinginannya menggunakan radiator berukuran cukup besar. Posisi radiator dirancang menyatu dengan karakter rangka dan bodi sehingga dari arah depan tidak langsung terlihat seperti motor modern dengan radiator besar. Detail pada mesin juga dibuat menarik, termasuk sirip-sirip pendingin dan cover yang memberikan sentuhan klasik.
Posisi Berkendara Thruxton 400 Tidak Terlalu Menyiksa Pergelangan Tangan
Meskipun membawa konsep cafe racer, posisi berkendara Thruxton 400 tidak dibuat terlalu ekstrem. Stangnya memang menggunakan model clip-on yang ditempatkan lebih rendah, tetapi posisinya tidak sampai membuat pengendara harus membungkuk secara berlebihan.
Stang yang relatif lebar turut membantu memberikan posisi yang lebih santai. Tinggi jok berada di sekitar 805 mm, sehingga pengendara dengan tinggi badan sekitar 165 cm masih dapat menapak dengan cukup baik meskipun harus sedikit berjinjit ketika menggunakan kedua kaki.
Joknya juga dirancang cukup tebal dan empuk. penutup jok belakang bergaya cafe racer ternyata dapat dilepas. Dengan demikian, motor tidak benar-benar terbatas sebagai kendaraan satu orang. Setelah penutup tersebut dilepas, area pembonceng masih dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Tangki bahan bakarnya memiliki kapasitas sekitar 13 liter. Bentuknya dibuat memanjang dengan lekukan yang membantu kaki menjepit tangki ketika motor digunakan secara aktif. Tutup tangki juga mendapat perhatian khusus melalui desain bergaya klasik yang memperkuat kesan premium.
Tracker 400 Mengusung Gaya Flat Track yang Lebih Gagah
Bagi penggemar motor flat track bergaya klasik modern, Tracker 400 menawarkan pendekatan yang berbeda. Motor ini terlihat lebih kekar dan maskulin dibandingkan Thruxton 400. Inspirasi desainnya berasal dari dunia balap flat track Amerika, sehingga garis bodinya cenderung sederhana, lebar, dan fungsional.
Bagian depan menggunakan visor kecil dengan tulisan 400. Lampu utama tetap mempertahankan bentuk yang menjadi identitas keluarga 400 Series. Suspensi upside down 43 mm juga tetap digunakan, begitu pula sistem pengereman depan dengan kaliper Brembo empat piston dan ABS.
Perbedaan paling jelas terlihat pada tangki. Tracker 400 menggunakan tangki dengan garis yang lebih datar dari bagian belakang menuju depan. Pada sisi bodinya terdapat panel besar yang menyerupai nomor balap. Tulisan Tracker dan identitas Triumph juga dibuat lebih menonjol sehingga tampilannya terasa semakin kuat.
Pelek dan ukuran ban pada dasarnya memiliki ukuran yang serupa dengan Thruxton 400. Akan tetapi, Tracker menggunakan Pirelli MT60 RS dengan pola semi off-road. Pemilihan ban tersebut sangat sesuai dengan konsep flat track yang dibawanya dan sekaligus memberikan tampilan yang lebih berkarakter.
Perbedaan Thruxton 400 dan Tracker 400 yang Paling Terlihat
Meskipun berasal dari keluarga yang sama, karakter keduanya cukup mudah dibedakan. Thruxton 400 terasa lebih sporty dan klasik dengan pendekatan cafe racer, sedangkan Tracker 400 lebih santai, gagah, serta membawa nuansa flat track.
Bagian Thruxton 400 Tracker 400 Konsep Cafe racer modern Flat track Mesin 398 cc, satu silinder 398 cc, satu silinder Tenaga Sekitar 40 PS Sekitar 40 PS Torsi Sekitar 37,5 Nm Sekitar 37,5 Nm Suspensi depan Upside down 43 mm Upside down 43 mm Ban depan Pirelli Diablo Rosso 4 Pirelli MT60 RS Ukuran ban depan 110/70 110/70 Ukuran ban belakang 150/60 150/60 Tinggi jok Sekitar 805 mm Sekitar 805 mm Tangki 13 liter 13 liter Harga OTR Jakarta Sekitar Rp188 juta Sekitar Rp212 juta
Perbedaan tersebut membuat pilihan antara keduanya lebih banyak bergantung pada karakter yang dicari. Trakon cocok bagi konsumen yang menyukai gaya cafe racer dengan nuansa sporty, sedangkan Tracker lebih menarik untuk mereka yang mengutamakan tampilan gagah dan posisi berkendara yang lebih santai.
Fitur Panel Instrumen Triumph 400 Series Cukup Lengkap
Panel instrumen pada Thruxton 400 mempertahankan karakter khas keluarga Triumph 400 Series. Bagian utama menggunakan indikator analog untuk menunjukkan putaran mesin, sementara layar digital di sampingnya menyediakan sejumlah informasi tambahan.
Data yang tersedia mencakup posisi gigi, odometer, trip meter, konsumsi bahan bakar, jarak tempuh yang masih tersedia berdasarkan bahan bakar, jam, serta informasi standar samping. Sistem kontrol traksi juga dapat dipantau melalui panel tersebut dan tersedia opsi untuk mengaktifkan atau menonaktifkannya.
Keberadaan informasi yang cukup lengkap ini membuat panel instrumen tetap terasa modern meskipun tampilan analog masih dipertahankan. Kombinasi tersebut juga cocok dengan konsep motor yang memang sengaja menggabungkan estetika klasik dengan teknologi masa kini.
Detail Knalpot Stainless Menambah Kesan Premium
Salah satu bagian yang cukup menarik perhatian adalah sistem knalpotnya. Thruxton 400 menggunakan silencer berukuran cukup besar dengan bentuk yang sederhana, tetapi diberi pelindung berbahan stainless. Bagian bawah hingga area leher knalpot juga menggunakan material yang sama.
Tracker 400 mendapatkan pendekatan desain serupa, hanya bentuk ujung silencernya dibuat seolah memiliki dua lubang. Padahal, konstruksinya tetap menggunakan satu silencer. Detail tersebut menjadi permainan desain yang membuat bagian belakang motor terlihat lebih berisi.
Penggunaan material stainless juga memberikan kesan premium sekaligus memperkuat karakter klasik. Ditambah dengan detail baut, cover mesin, dan panel bodi yang dibuat kontras, kedua motor ini memang tampak dirancang untuk menarik perhatian bukan hanya dari kejauhan, tetapi juga ketika diamati dari dekat.
Tracker 400 Lebih Nyaman untuk Penggunaan Harian?
Ketika dibandingkan dari posisi duduk, Tracker 400 terasa lebih santai. Stangnya lebih tinggi dan sangat lebar, sehingga posisi bahu terasa lebih terbuka. Pengendara tidak perlu membungkuk sedalam posisi pada Thruxton 400.
Punggung tetap sedikit condong ke depan sehingga karakter sporty tidak sepenuhnya hilang. Namun, dibandingkan model cafe racer, posisi tersebut terasa lebih ramah untuk penggunaan sehari-hari. Tinggi jok yang sekitar 805 mm juga tidak terlalu ekstrem.
Suspensinya memberikan kesan empuk ketika ditekan. Karakter seperti ini tentu menarik untuk kondisi jalan perkotaan yang tidak selalu mulus. Dengan kombinasi jok yang nyaman, posisi stang lebih santai, dan suspensi yang relatif lembut, Tracker 400 terlihat memiliki orientasi penggunaan harian yang cukup kuat.
Apakah Triumph Thruxton 400 dan Tracker 400 Menarik Dibeli?
Kehadiran Thruxton 400 dan Tracker 400 memberikan pilihan baru bagi konsumen yang menginginkan motor 400 cc dengan karakter berbeda. Keduanya tidak hanya mengandalkan kapasitas mesin, tetapi juga membawa desain yang cukup spesifik.
Thruxton 400 menawarkan tampilan cafe racer modern dengan fairing setengah badan, lampu bulat, clip-on bar, serta nuansa sporty. Sementara Tracker 400 lebih menonjolkan gaya flat track melalui tangki datar, panel nomor balap, visor kecil, ban semi off-road, dan posisi berkendara yang lebih tegak.
Dengan mesin hampir 400 cc, tenaga sekitar 40 PS, suspensi upside down, ABS, kontrol traksi, serta sejumlah detail premium, spesifikasinya memang cukup menarik untuk kelasnya. Harga keduanya tentu menjadi faktor penting karena perbedaan sekitar puluhan juta rupiah membuat konsumen perlu menentukan apakah karakter Trakon atau Tracker yang lebih sesuai.
Jika tujuan utamanya mencari motor Triumph 400 cc bergaya retro untuk penggunaan harian, Thruxton 400 memberikan sensasi berkendara yang lebih sporty. Sebaliknya, Tracker 400 terasa lebih masuk akal bagi pengendara yang menginginkan posisi santai sekaligus tampilan yang lebih gagah.
kedua motor tersebut menunjukkan bahwa desain klasik tidak harus berjalan berlawanan dengan teknologi modern. Mesin injeksi, kontrol traksi, ABS, throttle elektronik, suspensi upside down, dan perangkat pengereman modern justru dipadukan dengan bentuk yang terinspirasi dari dunia balap masa lalu. Kombinasi inilah yang membuat Thruxton 400 dan Tracker 400 menjadi dua motor baru yang menarik untuk diperhatikan di pasar sepeda motor Indonesia pada 2026.



